Mengatasi Trauma Dengan EFT

Pikiran adalah sesuatu yang nyata dengan energi yang nyata. Ketika pikiran mencoba menyangkal realitas, hal itu dapat menyebabkan pola-pola energi negatif yang berakibat pada hidup anda dan kesehatan anda dengan terjadinya hambatan energi.

 

Dari sudut pandang pengobatan tradisional cina, halangan pada energi dapat menyebabkan penyakit. Jika anda membayangkan hambatan itu adalah sebuah batu pada aliran energi tubuh, anda dapat dengan mudah membayangkan bahwa energi kehidupan yang seharusnya mengalir secara alami sesuai dengan jalurnya maka justru akan berbalik arahnya. Hal ini akan menyebabkan energi yang membesar pada satu sisi, dan menyebabkan kekurangan energi pada sisi yang lain.

 

Kondisi ini akan menciptakan ketidak harmonisan emosi, mental, dan fisik yang juga dikenal sebagai ketidakseimbangan yin-yang. Tujuan EFT adalah untuk mengembalikan keseimbangan serta keselarasan energi dalam diri anda.

 

Sebuah trauma terjadi ketika tak tahan hidup lagi dan anda mengatakan “Tidak.” atau kita menyebutnya adalah “Biarkan di sana.” “ Saya sudah tak tahan lagi.” “Jika ini terjadi, saya tidak akan bertahan.” Hal ini bukanlah keputusan sadar, tetapi biasa terjadi dalam kondisi seperti itu, dan hal ini menciptakan pola kebiasaan secara mental, emosi, dan fisik. Traumatic stress adalah stress pada sistem yang secara terus menerus mencoba menahan pengalaman trauma. Peristiwanya benar-benar terjadi. Traumatic stress berakhir bila trauma tidak lagi merupakan sebuah tekanan dalam diri.

 

Ilusi

Ketika trauma terjadi, dan respon seseorang adalah, “Saya tak tahan lagi,” maka pernyataan yang sebenaranya ada dalam dirinya adalah, saya akan mengambilnya nanti, simpan saja. Tetapi kita cenderung untuk menghindari sesuatu yang kita tidak ingin bersentuhan dengannya, dan trauma yang ingin kita hindari akan tetap bersama kita. Kita dapat membiarkannya melalui waktu dan jarak antara kita dan peristiwa yang terjadi diantaranya. Bayang-bayang tercipta di pikiran kita bahwa peristiwa ini ada di “masa lalu” dan kita sekarang dapat mengendalikan hidup kita. Tetapi, semakin kita mengunci trauma itu, semakin kuat kita terhubung dengannya, dan semakin sempit serta terbatas hidup kita.

 

Sel-sel dalam tubuh kita menyimpan memori. Tubuh tidak dengan serta-merta ada tanpa ada sesuatu. Dapat diibaratkan bahwa Ia memiliki orang tua, kakek-nenek, dan nenek moyang, dan terus ke belakang hingga ribuan tahun. Jika mata rantai tidak terputus, tubuh tidak akan ada di sini sekarang. Sel-sel berbicara tentang sejarah tubuh.

 

Pada praktek akupunktur (EFT adalah teknik akupunktur versi emosional), tubuh dilihat sebagai area energi yang dapat menjadi kacau karena energi yang terkekang atau justru terbuka dan mengijinkan dirinya atau energi yag lain mengalir bebas melaluinya. Sel yang menyimpan trauma beroperasi dalam pola yang terus sama yang didasarkan pada sesuatu yang tidak lagi masuk akal atau terjadi pada seseorang tetapi orang tetap mempertahankan polanya.

 

Bila trauma yang tak terselesaikan menghalangi aliran energi tubuh, energi itu biasanya akan disimpan atau berhenti di bagian tubuh tertentu, sering pada organ yang secara langsung berhubungan dengan trauma. Mungkin bisa memori paru-paru tentang debu, memori jantung tentang penghianatan yang dalam, memori perut tentang keracunan makanan tertentu, memori kepala tentang ledakan yang menghancurkan, dan sebagainya.

 

Ketika EFT diaplikasikan pada cellular memory, Ia tidak menghapus memori, tapi menghilangkan traumatic stress dan mengijinkan seseorang berhubungan dengan kehidupannya sebagaimana sekarang. Sebagai contoh, paru-paru seseorang dengan lingkungan yang kotor mungkin mengingatkan waktu ketika menghirup debu di lapangan yang kering atau di tambang batu bara yang membuat tubuh nenek moyangnya sangat menderita. Bila traumatic stress berlalu, sel-sel pada paru-paru mampu secara sempurna berhubungan dengan stress yang sekarang.